Aku, Ibu Temanku, dan Pesan Berantai Itu

2018 03 10 - Cover for Aku, Ibu Temanku, dan Aturan Itu (OK)

***

Nduk, maksude opo ini? Ibu dpt sms di grup kok pd rame…mrk ngertinya atas dasar itu Pmth bisa nentuin pajak?”

Kata mamah… lg rame di grup whatsapp nya 🙂

Beberapa pesan pribadi muncul di aplikasi Whatsapp (WA). Kalimat diatas adalah dua pesan terakhir dari pesan-pesan tersebut. Saat itu, karena sedang ada urusan, sekilas saja saya membacanya. Tak sampai tiga detik. Rupanya, sekilas lagi saya baca, seorang teman kantor meneruskan beberapa pesan yang ada di grup WA sang Ibu tentang munculnya sebuah peraturan baru. Continue reading “Aku, Ibu Temanku, dan Pesan Berantai Itu”

Advertisements

Make a strong start!

Cover for 'make a strong start'

Awal Perjalanan

Winners see the gain, losers see the pain. Kalimat inilah yang terus terngiang dalam pikiran saya saat melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan membawa saya ke Sydney, Australia. Saat itu bulan puasa, medio Juli 2013, dua minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri. Perasaan senang, sedih, dan was-was bercampur jadi satu. Senang karena akhirnya bisa berangkat kuliah S3 dengan beasiswa, sedih karena harus meninggalkan keluarga dalam kurun waktu yang lama, dan was-was karena menjalani tugas belajar di luar negeri untuk pertama kalinya. Ada banyak pertanyaan muncul dalam otak imajinasi saya: seperti apa nanti kuliahnya? seperti apa model belajarnya? seperti apa nanti ujiannya? Apakah nanti saya bisa lulus tepat waktu?  Continue reading “Make a strong start!”

Pendekatan evidence-based dalam administrasi pajak: Seberapa penting?

Wenzel and Taylor

A. Pendahuluan

Dalam buku terbitan Oxford University Press, Shaw et al. (2010) menyatakan bahwa administrasi pajak (tax administration) seringkali terabaikan dalam perumusan kebijakan pajak (tax policy). Padahal, administrasi pajak memegang peranan sangat penting dalam menentukan bagaimana sistem pajak bekerja. Saking pentingnya, khususnya jika merujuk pada praktik di negara-negara berkembang, Milka Casanegra de Jantscher bahkan pernah secara eksplisit menyatakan bahwa ‘tax administration is tax policy’ (World Bank, 1990, hal. 179). Hal inilah yang membuat Bird (2004) memandang bahwa sangat krusial bagi para pengambil kebijakan fiskal untuk memahami dinamika administrasi pajak.

Pernyataan tersebut sangat beralasan karena kebijakan pajak berkaitan erat dengan administrasi pajak. Tanpa administrasi pajak yang baik, muskil kebijakan pajak akan dijalankan dengan baik. Ini karena, untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh pembuat kebijakan, secara esensi sistem dan kebijakan pajak yang diambil harus dapat diimplementasikan secara efektif dalam praktik (level playing fields). Dengan kata lain, berasumsi bahwa kebijakan pajak yang diambil akan dapat berjalan dengan baik tanpa memasukkan pra-syarat adanya administrasi pajak yang baik adalah sebuah kekeliruan. Hubungan yang bersifat interdependensi dari prinsip, kebijakan, dan administrasi pajak dapat dilihat dalam Gambar 1. Continue reading “Pendekatan evidence-based dalam administrasi pajak: Seberapa penting?”

Perppu 1 Tahun 2017 dan kepatuhan pajak: Implikasi teoritis dan empiris

 

OECD 2011

A. Pendahuluan

Isu kepatuhan pajak dimulai sejak pajak itu sendiri ada (Andreoni et al. 1998) dan tidak akan sirna (Lederman 2003). Oleh karenanya, tidak ada satupun otoritas perpajakan yang kebal dari masalah kepatuhan pajak. Bahkan, secara paradoksal dikatakan kepatuhan pajak membawa sebuah dilema sosial: insentif yang diterima oleh sekelompok orang yang tidak patuh pajak (tax evader)—dengan menjadi free rider—mencapai titik puncaknya ketika sebagian besar masyarakat adalah pembayar pajak yang taat (Braak 1983). Mengapa? Karena uang pajak umumnya digunakan untuk pembiayaan barang dan jasa publik yang bersifat non-excludable (Stiglitz 2000). Dalam kondisi seperti ini, membatasi secara efektif kelompok tax evader agar tidak dapat menikmati fasilitas publik (misalnya dengan melarang mereka menggunakan jembatan atau jalan raya) adalah sebuah kemustahilan. Continue reading “Perppu 1 Tahun 2017 dan kepatuhan pajak: Implikasi teoritis dan empiris”

Memahami dinamika kepatuhan pajak: Sebuah pengantar

Immanuel Kant

A. Pendahuluan

Kita mungkin sering mendengar istilah ‘kepatuhan pajak’—sebuah istilah yang populer bagi petugas pajak, wajib pajak (WP), konsultan pajak dan juga akademisi dibidang perpajakan. Tetapi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan istilah ‘kepatuhan pajak’?

Ini mungkin pertanyaan yang sederhana bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi sebagian yang lain. Mengapa demikian? Tulisan ini akan membahas secara singkat bagaimana definisi kepatuhan pajak dibangun dari dua perspektif yang berbeda dan bagaimana dinamika kepatuhan pajak dapat dipahami secara lebih mendalam. Konteks utama pembahasan dalam tulisan ini adalah WP Orang Pribadi (WP OP) dan Pajak Penghasilan. Continue reading “Memahami dinamika kepatuhan pajak: Sebuah pengantar”

Mengurangi ketimpangan ekonomi dengan wealth tax: Sebuah tinjauan teoritis (part 1)

Nicholas Kaldor

A. Pendahuluan

Ketimpangan ekonomi sudah jelas terlihat—0,7% populasi menguasai 47% total kekayaan dunia, sementara 73% populasi hanya memiliki 2,4% sisanya. Hal yang sama terjadi di Indonesia—1% rumah tangga terkaya menguasai 50,3% total kekayaan Indonesia, dan 158 ribu diantaranya masuk dalam kelompok 1% orang terkaya di dunia (Credit Suisse, 2016).

Ketimpangan ekonomi, sebagai salah satu penyumbang utama ketimpangan sosial, memiliki dua fitur utama: ketimpangan kekayaan (wealth inequality) dan ketimpangan pendapatan (income inequality). Istilah wealth disini biasanya merujuk pada jumlah akumulasi nilai aset setelah dikurangi dengan utang (misalnya tanah, bangunan, kendaraan, tabungan, saham, logam mulia). Jadi, wealth inequality dapat diartikan distibusi yang timpang atas nilai aset bersih. Continue reading “Mengurangi ketimpangan ekonomi dengan wealth tax: Sebuah tinjauan teoritis (part 1)”